Rumah Adat Kalimantan Selatan dan Penjelasannya

Kalimantan Selatan merupakan sebuah provinsi yang terletak di Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk hampir mencapai 3,7 juta jiwa. Kalimantan Selatan ini beribukotakan Banjarmasin dengan dominasi masyarakat Suku Banjar.

Dominasi masyarakat Suku Banjar ini membuat bahasa yang digunakan ialah bahasa Banjar dengan dua dialek, yaitu dialek Banjar Kuala dan dialek Banjar Hulu. Sementara untuk agama yang dianut pada Provinsi Kalimantan Selatan ini ialah didominasi oleh pemeluk Islam. Meskipun demikian, terdapat juga beberapa agama lainnya, seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, juga Kaharingan yang dianut oleh penduduk Pegunungan Meratus.

Ragam dialek bahasa serta beragamnya agama tersebut merupakan bukti kecil dari adanya kekayaan akan kebudayaan kepercayaan yang terdapat di Kalimantan Selatan. Dalam dialek dan agama yang berbeda-beda, masyarakat Kalimantan Selatan menjadi satu dalam negara bernama Indonesia. Selain dua hal tersebut, terdapat hal lain yang menjadi kekayaan Kalimantan Selatan, yaitu rumah adat Kalimantan Selatan yang disebut dengan Rumah Bubungan Tinggi.


Salah satu bukti kecil dari kekayaan budaya Kalimantan Selatan berupa Rumah Bubungan Tinggi ini. Rumah adat Kalimantan Selatan ini merupakan sebuah rumah dengan struktur bangunan rumah panggung, seperti rumah adat Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Namun, yang membedakan rumah adat Kalimantan Selatan ini ialah luasnya yang tidak seluas kedua rumah adat provinsi tersebut.
Sebagai rumah adat Kalimantan Selatan, Rumah Bubungan Tinggi ini memiliki beberapa struktur bangunan, seperti:
·  Bangunan Induk yang merupakan tubuh rumah dengan bentuk memanjang lurus dari belakang ke depan. Bangunan induk ini dibagi atas beberapa ruangan dengan lantai yang berjenjang.
·  Anjung, yaitu bagian yang menempel di kanan dan kiri rumah.
·  Bubungan Tinggi, sesuai dengan namanya; Rumah Bubungan Tinggi. Bubungan Tinggi adalah bubungan atap yang tinggi melancip.
·  Bubungan Atap, ialah  bubungan yang terdiri atas dua bagian, yaitu yang tinggi ke depan dan disebut atap SIndang Langit, serta yang tinggi ke belakang dan disebut Hambin Awan.
Selain memiliki struktur bangunan yang khas dan melambangkan kentalnya budaya Kalimantan Selatan, Rumah Bubungan Tinggi juga memiliki beberapa fungsi, di antaranya:
·  Serambi atau Pelatar, ialah berupa bagian depan rumah yang di sana terdapat tempat air untuk membasuh kaki sebelum memasuki rumah.
·  Panampik Kecil/ Pacira/ Panurunan, merupakan bagian selanjutnya yang akan dimasuki setelah melewati serambi. Di ruangan ini tempat disimpannya berbagai perkakas, seperti dayung, tombak, sandal, terompah, dan sebagainya.
·  Panampik Besar atau Paluaran, merupakan ruangan dengan luas yang cukup besar dan bisa untuk menampung beragam acara adat. Di ruangan ini juga bisa ditemukan berbagai hiasan, seperti tanduk rusa, guci, dan lainnya.
·  Palidangan, ruangan yang terbagi atas tiga ruangan, ialah palendangan dalam yang ditujukan untuk kaum wanita saat adanya acara adat, lalu anjungan kanan yang digunakan sebagai tempat beribadah dan tempat istirahat, selanjutnya anjungan kiwa ditujukan sebagai tempat persalinan dan pengurusan jenazah.
·  Pamedangan, ruangan dengan lantai lebih tinggi dan terdapat sepasang kursi panjang di dalamnya.
·  Padu, ruangan yang fungsinya sama seperti dapur; untuk tempat mengolah makanan dan menyimpan alat-alat penunjang lainnya.

Demikian mengenai sebagian kekayaan yang dimiliki Indonesia dari Kalimantan Selatan. Dengan mengetahui rumah adat Kalimantan Selatan, semoga menjadi salah satu langkah untuk semakin mencintai budaya tanah air tercinta ini.