Rumah Adat Bali dan Penjelasannya

Dalam artikel rumah adat Bali dan penjelasannya ini kita akan melihat salah satu ragam budaya di Indonesia yaitu budaya Bali dan juga makna serta keindahannya. Bali seperti yang kita kenal adalah salah satu pulau yang sangat kaya dengan keindahan alam dan juga budaya yang dijunjung tinggi. Budaya Bali yang kita kenal sangat identik dengan arsitektur-arsitektur kuno yang khas dengan agama Hindu. Agama yang masuk dalam budaya di Bali ini bukan hanya memberikan sentuhan religius di Bali tapi juga memberikan nuansa yang berbeda dan keunikan tersendiri. Lalu bagaimana rumah adat di Bali tersebut beserta maknanya? 

Adat rumah di Bali tidak hanya terbatas pada bentuk rumahnya saja. Di Bali ada banyak aturan yang berkaitan dengan peletakan posisi-posisi rumah. Pengaturan-pengaturan seperti Asta Kosala Kosali yang mencakup aturan Tri Hita Kirana dan juga Tri Angga. 

Rumah yang ada di dalam masyarakat Bali ini memiliki bentuk kompleks dimana sebuah kompleks terdiri dari beberapa bangunan. Lalu apa saja bangunan dalam rumah adat Bali dan penjelasannya? Berikut ulasannya.



Angkul-angkul

Merupakan pintu masuk utama yang menuju rumah kompeks Bali. Angkul-angkul memiliki fungsi seperti gerbang masuk pura yang disebut dengan gerbang Candi Bentar. Bedanya angkul-angkul ini memiliki atap sehingga bentuknya makin mirip dengan gerbang. Atap ini bertujuan untuk menghubungkan 2 sisi dari gerbang dan berdasarkan kebiasaan, atap ini terbuat dari rumput kering. 

Aling-aling

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, rumah adat Bali adalah sebuah rumah adat yang terbentuk dari kompleks rumah. Setiap kompleks rumah ditandai dengan adanya aling-aling ini. Aling-aling memutari kompleks rumah berupa tembok. Untuk tingginya biasanya tembok aling-aling ini memiliki tinggi sekitar 1.5 meter. 

Pura keluarga atau sanggah

Dalam masyarakat, setiap keluarga biasanya memiliki sebuah tempat ibadah masing-masing. Lokasi tempat ibadah ini juga diatur untuk diletakkan di arah Timur Laut yang merupakan rumah arah yang baik. 

Bale Daja atau Bale Meten

Bale Daja disebut demikian karena berlokasi di area Utara. Bale Daja merupakan rumah yang digunakan untuk tempat tinggal kepala keluarga dan juga anak gadis. Bale Daja ini sengaja dibuat lebih tinggi karena digunakan untuk pemanis dan juga menghindari resapan dari tanah. 

Bale Dauh

Bagian rumah ini digunakan untuk menerima tamu dan tempat tidur anak yang masih remaja. Bale ini memiliki tiang-tiang penjangga yang digunakan untuk menentukan nama dari bale tersebut. Jika memiliki 6 tiang, bale disebut dengan sakenem. Untuk bale dengan 8 tiang disebut dengan sakutus dan seterusnya. 

Bale sakepat

Bale ini merupakan bale dengan 4 tiang. Bale ini merupakan bale yang ditujukan untuk kamar tidur anak di selatan atau untuk bersantai. 

Bale Dangin

Merupakan sebuah bale yang digunakan untuk upacara adat atau untuk istirahat jika tidak sedang difungsikan. 

Paon atau Pawaregan

Merupakan bagian rumah yang di gunakan untuk memasak. Selain digunakan untuk memasak makanan, area in juga dipercaya dapat menghilangkan ilmu hitam atau pengaruh buruk yang didapatkan dari luar. Oleh karena itu ketika pulang dari bepergian sebaiknya datang ke paon dulu untuk membersihkan diri. 

Klumpu

Merupakan area yang digunakan untuk menyimpan beras dan padi. Klumpu yang disebut dengan jineng ini sering kali menjadi inspirasi pada hotel sebagai tempat berantai. 

Demikianlah informasi mengenai rumah adat Bali dan penjelasannya. Budaya dan adat tidak hanya perlu diketahui oleh mengikutinya tapi juga kita yang ada di luar pengikut yang juga harus merasa memiliki budaya tersebut. Jadi tidak ada salahnya anda belajar sebagai tambahan ilmu atau bahkan digunakan sebagai inspirasi seperti bale Klumpu diatas.