MENGENAL RUMAH ADAT DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BANGSAL KENCONO KERATON BESERTA BAGIAN- BAGIANNYA

Daerah istimewa Yogyakarta merupakan sebuah provinsi yang beribukota di Kota Yogyakarta. Nama daerah ini yang memiliki status nama istimewa berkenaan dengan sejarah berdirinya propinsi ini baik sebelum maupun sesudah proklamasi kemerdekaan. Yogyakarta ini sering disebut sebagai kota pelajar. Hal ini dikarenakan memang banyak pelajar dari seluruh penjuru kota di Indonesia belajar di tempat tersebut karena kota ini memang memiliki banyak unit pendidikan di dalamnya. Tidak hanya disebut sebagai kota pelajar, namun DIY juga disebut dengan kota budaya. Salah satu budaya yang perlu diketahui adalah rumah adat daerah istimewa yogyakarta ini.

Rumah Adat DIY Bangsal Kencono Keraton

Rumah adat daerah istimewa Yogyakarta yang bernama bangsal kencono ini merupakan rumah adat yang berbentuk pendopo atau padepokan. Rumah ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono 1. Pada saat itu, rumah tersebut merupakan kediamannya sekaligus istana kerajaan. Rumah adat ini sangat unik baik dari arsitekturnya dan juga dari nilai filosofisnya. Atap dari rumah adat ini memiliki bubungan tinggi yang menopang 4 tiang di bagian tengahnya. Bahan sirap atau genting tanah adalah material atapnya.
Lantai dari rumah adat ini terbuat dari bahan marmer dan granit yang mana hal ini dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah yang ada di sekitarnya. Tiang dan dindingnya disusun dari kayu berkualitas. Tidak hanya itu, rumah adat ini juga memiliki folosofi kehidupan yang bagus yaitu alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya serta berbagai perlambangan kehidupan ada di dalamnya. Pada rumah adat bangsal kencono ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan, bagian inti dan bagian belakang. 

Menjelaskan Bagian- Bagian Rumah Adat 

Pada bagian depan rumah adat daerah Istimewa Yogyakarta bangsal kencono keraton ini terdiri dari Gladhag Pangurakan, Alun- alun Lor, dan Masjid Gedhe Kasultanan. Gladhag Pangurakan merupakan gerbang utama sebagai akses masuk ke istana. Gerbang ini terdiri dari dua bagian yaitu Gerbang Gladhag dan Gerbang Pangurakan. Kemudian Alun- alun Lor merupakan lapangan berumput yang letaknya di utara keraton. Dahulu, lapangan ini digunakan untuk tempat acara kerajaan yang mana di dalamnya biasanya melibatkan rakyat. Selanjutnya yaitu masjid gedhe Kasultanan yang digunakan sebagai tempat ibadah sholat oleh para punggawa kesultanan. 


Setelah mengenal bagian depan, selanjutnya yaitu bagian inti yang terdiri dari kompleks pagelaran, Siti Hinggil Ler, Kamanduhungan Lor, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul dan Siti Hingil Kidul. Bangsal pagelaran merupakan bangunan khusus untuk para penggawa kesultana jika akan menghadap sultan pada acara upacara resmi. Siti Hinggil Ler adalah tempat pelaksaan upacara resmi kesultanan. Kamandhungan Ler merupakan tempat untuk mengadili perkara berat, biasanya ancamannya yaitu hukuman mati. Namun saat ini tempat ini menjadi tempat pelaksaan upacara adat. Sementara itu, Sri Manganti dahulu digunakan untuk menerima tamu kerajaan dan sekarang digunakan untuk tempat penyimpanan pusama keraton.
Selanjutnya yaitu kedhaton yang merupakan inti dari keraton secara keseluruhan.Kemudian, Kemangan merupakan tempat penerimaan abdi dalem waktu itu. Terakhir yaitu Siti Hinggil Kidul adalah tempat sultan menyaksikan adu manusia dengan macan, menyaksikan prajurit jika gladi resik. Namun saat ini digunakan sebagai tempat pameran, pertunjukan, dll. Setelah mengenal bagian inti, selanjutnya yaitu bagian belakang dari rumah adat daerah Istimewa Yogyakarta bangsal kencono keraton yaitu terdiri dari alun- alun kidul dan Plengkung Nirbaya. Alun- alun kidul adalah alun- alun yang terletak di bagian selatan, sementara plengkung Nirbaya adalah poros utama ujung selatan keraton untuk menuju gerbang keluar.